Kelihatannya Aku Mundur

08.38

Terakhir kali aku nulis di blog ini itu September 2022.

Padahal blog ini sendiri sudah jauh lebih lama dari itu. Aku mulai nulis di sini sejak 2011. Kalau dipikir sekarang, blog ini seperti tempat singgah. Kadang rame, kadang sepi, kadang berbulan-bulan tidak disentuh. Tapi entah kenapa, selalu ada.

Winter pertama dalam hidup
Sebagian dari kalian mungkin kenal aku dari satu fase tertentu. Fase ketika aku cukup rajin nulis tentang tahapan seleksi Management Trainee Telkom (GPTP) . Waktu itu hidup rasanya lurus. Ada jalur. Ada urutan. Ada definisi “maju” yang kelihatan jelas.

Lolos berarti maju.
Tidak lolos berarti tertinggal.

Waktu itu sesederhana itu.

Beberapa tahun berlalu sejak fase itu dan seperti kebanyakan hal dalam hidup, ternyata tidak semuanya berjalan lurus.

Belakangan ini, ada cukup banyak teman dan kolega yang nanya hal yang mirip.

“Sekarang lagi ngapain, Fro?”
“Masih kerja?”
“Atau pindah lokasi lagi?”

Dan biasanya akan sampai ke satu titik.

“Lah, kok sekarang jadi student?”

Aku biasanya cuma ketawa kecil.

Iya, sekarang aku memang lagi kuliah. Tapi ini bukan jeda dari karir, dan bukan juga keluar dari jalur. Ini bagian dari proses pengembangan yang memang disiapkan oleh perusahaan.

Dari Great People Trainee Program, aku masuk ke Great People Scholarship Program. Dari GPTP ke GPSP.

Dari T ke S.

Kalau dilihat sepintas, ini memang kelihatan seperti mundur satu huruf. Dari trainee jadi student. Dari kerja balik lagi ke kuliah. Dari ritme cepat ke hidup yang lebih pelan.

Jujur saja, waktu pertama sadar itu, aku juga sempat mikir, “kok gini ya?”

Secara struktur, iya, ini terlihat seperti langkah ke belakang. Tapi setelah dijalani, ceritanya ternyata tidak sesederhana itu.

Program ini adalah bentuk kepercayaan. Kepercayaan bahwa aku diberi kesempatan untuk belajar lebih jauh, belajar di luar negeri, lalu kembali dengan kapasitas yang lebih siap. Bukan cuma soal gelar, tapi soal cara berpikir dan cara melihat masalah.

Saat ini aku melanjutkan studi Master of Management in Analytics di McGill University, Kanada. Tulisan ini aku buat ketika program itu sudah berjalan sekitar setengah jalan. 

Gedung Fakultas Desautels McGill

Di tengah jalan ini, yang paling terasa justru hal-hal kecil. Bukan lagi excitement hari pertama. Tapi rutinitas. Bangun pagi, buka laptop, cek jadwal kelas, lalu mulai lagi. Ada hari di mana materi terasa nyambung. Ada hari lain di mana aku cuma duduk, mencatat, dan sadar betapa banyak hal yang belum aku pahami.  

Rasanya sudah bukan fase euforia awal. Tapi juga belum garis akhir.

Sudah cukup banyak kelas yang dilewati, cukup banyak diskusi yang bikin kepala penuh, dan cukup banyak momen sadar bahwa aku masih harus belajar banyak hal. Duduk di kelas, dengar diskusi, lalu tiba-tiba kepikiran, “oh iya, masih banyak yang belum aku tahu ternyata.”

Tidak ada jabatan. Tidak ada struktur yang familiar. Semua orang datang dengan latar yang berbeda, dan sama-sama belajar dari nol di beberapa bagian.

Di situ aku mulai ngerasa, mungkin fase ini memang perlu. Bukan untuk berhenti, tapi untuk menata ulang cara berpikir.

Kalau ditarik mundur, ketertarikanku ke arah ini sebenarnya bukan hal baru. Sejak lama aku suka dengan hal-hal yang berkaitan dengan data, teknologi, dan pengambilan keputusan. Aku suka membongkar masalah yang kelihatannya ruwet, lalu mencoba memahaminya pelan-pelan.

Bukan cuma angkanya. Tapi ceritanya.

Dari teknologi, lalu kerja di korporasi, sampai sekarang kembali ke bangku kuliah, benang merahnya terasa makin kelihatan. Aku menikmati proses berpikirnya. Proses mempertanyakannya. Termasuk proses bingungnya.

Buatku, ini bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Lebih seperti sesuatu yang sudah lama ada, tapi baru sekarang benar-benar dapat ruang.

Fase pengembangan ini tentu tidak selalu nyaman. Ada hari-hari capek. Ada hari-hari ragu. Ada momen merasa tertinggal dibanding teman-teman yang terus bergerak di jalur mereka masing-masing.

Tapi ada satu hal yang cukup menenangkan. Aku tahu aku tidak sedang keluar jalur. Aku sedang berada di jalur yang berbeda, untuk sementara waktu.

Di luar urusan studi dan karir, hidupku juga berubah. Sekarang aku sudah menikah dan pelan-pelan sedang belajar menyiapkan diri jadi orang tua. Fase ini dengan sendirinya mengubah banyak hal.

Bahan bacaan baru bersama istri tentang prenatal

Tentang waktu.
Tentang prioritas.
Tentang arti “maju”.

Karir tetap penting tapi rasanya tidak lagi berdiri sendirian.

Mungkin itu juga yang membuat fase ini terasa masuk akal. Hidupku tidak berhenti. Ia hanya bergerak dengan ritme yang berbeda.

Beberapa tahun terakhir, aku memang lebih sering menulis di Medium dan LinkedIn. Blog ini sempat sunyi. Bukan karena aku berhenti menulis, tapi karena aku belum tahu harus menulis dari versi diriku yang mana.

Tulisan ini bukan pengumuman besar. Lebih seperti menyapa kembali. Mengabari bahwa aku masih di sini. Masih belajar. Masih beradaptasi.

Aku tidak tahu nanti setelah ini arahnya ke mana. Setengah perjalanan sudah lewat, setengah lagi masih di depan. Rasanya belum tepat untuk menarik kesimpulan apa pun.

Yang aku tahu, aku sedang belajar melihat hidup dengan ritme yang berbeda. Tidak secepat dulu. Tidak sejernih yang aku harapkan. Tapi lebih jujur.

Entah ini ke mana arahnya.
Kita lihat saja nanti.

Terima kasih sudah membaca.

frondyff

You Might Also Like

0 komentar