Kuat dilakoni, yen ra kuat ditinggal ngopi, ceritanya ini musik-musik pengantar atau bumper postingan wkwk
Linimasa kehidupan terus berjalan, tulisan ini jika dibandingkan dengan tulisanku di awal-awal pandemi di link ini (Jaga Jarak untuk jaga kamu) akan sangat berbeda. Di tulisan itu jelas sekali aku menuliskan kekhawatiran yang aku rasakan terhadap perubahan yang tiba-tiba, mencoba menemukan berbagai hal untuk menenangkan diri di masa yang rasanya semua orang di generasiku baru mengalaminya. Kini bisa dibilang semua mulai membaik, melihat proses vaksinasi yang kian lancar secara harian dan angka penyebaran yang mulai terkendali rasanya bisa dibilang semuanya ada di jalur yang benar untuk recovery. Tentu saja tidak boleh lengah ya, tapi sekarang harusnya sudah mulai terbiasa sih, sekarang kalau keluar tanpa masker saja udah berasa diri ini telanjang tanpa pakaian haha.
Sudut pandang harian vs sudut pandang tahunan
Jika kita melihat pengalaman hidup di era pandemi yang kita rasakan secara hari per hari rasanya pasti jadi hari-hari yang berat ya, itulah pentingnya kita punya sudut pandang untuk tidak hanya melihat hanya dari timespan itu saja, kita bisa melihat dari sisi tahunan, atau bahkan 5 tahunan. Kalau teman-teman pernah melakukan edit video secara sederhana pasti pernah melakukan action menggeser timespan frame ke satuan milisecon untuk bisa melakukan cut scene lebih presisi, tapi untuk melihat kesuluruhan video harus dikembalikan ke timespan semula agar bisa kita lihat secara utuh.
Hal itu sama juga dengan apa yang terjadi pada kita, pertumbuhan kita akan terlihat jelas ketika kita melihat dari sudut pandang tahunan, 5 tahunan atau 10 tahunan.
Begitupun yang aku alami. ketika sampai di umur sekarang aku bersyukur ada banyak pertumbuhan yang bisa aku lihat. Setidaknya kini aku sudah bisa melihat bagaimana aku bisa belajar mencatat pengeluaranku sendiri untuk bisa melakukan simulasi menabung atau investasi. Kesadaran melek finansial ini jauh lebih baik dibandingkan beberapa tahun yang lalu ketika aku buta sekali dengan literasi finansial yang ada hehe, terimakasih untuk aplikasi moneylovers yang cukup powerful, bukan endorse, tapi ini slot iklan kalau ada yang mau masuk iklan haha, berasa selebgram.
Grafik bertumbuh kehidupan (source : unsplah.com)
Dalam hal pekerjaan sehari-hari juga aku merasakan adanya pertumbuhan jika dibandingkan awal masuk, beberapa tulisan seperti di sini (masa OJT) dan di sini (masa 2 tahun) ketika aku bandingkan lagi dengan yang sekarang juga ada beberapa hal yang membaik. Meskipun rutinitas yang ada bisa membuatku jatuh ke titik jenuh, selalu ada kesempatan kolaborasi yang muncul untuk mengisi pertumbuhan di sana, jadi sprint master, berbagi di sharing session internal atau ikut jadi bagian tim yang berinovasi. Sungguh hal yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya di awal masuk kerja.
Bad day vs bad life
Yang paling terasa dalam masa pertumbuhan yang aku alami adalah pemahaman ketika mengalami suatu masalah. Di malam hari aku selalu berkata pada diriku sendiri bahwa :
it's just a bad day not a bad lifeTuhan yang Maha Pasti selalu pegang kendali.
Selalu ada grafik turun dan naik secara harian, hidup memang sedinamis itu. Tidak akan kesenangan bertahan sepanjang waktu begitupun juga kemalangan.
Diriku di umur ini terus belajar juga kalau mengalami rasa sedih atau sakit hati ya sudah ijinkan diri mengakui kalau sedang mengalami hal sedih itu, menjalani prosesnya dan berdamai. Pada saatnya nanti setelah waktu berlalu, kita juga bisa menertawakan sakit hati yang disebabkan karena kebodohan kita sendiri lho hehe, kalau rumus dasar comedy nya kata para comika
tragedy + time = comedy,
komedinya bisa dapet kalau time nya juga sudah cukup, seni menertawakan diri kalau kata Gus Dur hehe, yah meskipun jokesku receh-receh sih tidak lucu-lucu amat. Kalau teman-teman pernah lihat kadang aku tertawa sendiri tiba-tiba itu bukan berarti aku mulai agak terganggu yaa, kadang di situ aku menertawakan kebodohan diriku sendiri di masa lalu haha.
Menutup catatan kali ini terinspirasi lirik lagu koplo Bojo Galak di bumper tulisan di atas tadi
kuat dilakoni, yen ra kuat ditinggal ngopi
sepenggal lirik yang dalam maknanya, jika kuat ya dijalani, kalau merasa lelah ya istirahat, nanti lanjut lagi.
Terima kasih teman-teman sudah mau dengar ceritaku lagi kali ini. Selamat melakukan evaluasi pertumbuhan tahunan.
Frondy,
26 tahun belajar seni menertawakan diri
Hello gaes, pernah ngerasa banget ga ketika kita sekarang menjalani hidup sering berada di situasi yang tidak nyaman, padahal mending melakukan hal-hal yang santai-santai aja ga sih ? Eh atau gimana ya harusnya ?
Bulan ini sangat menantang, mungkin seperti yang pernah aku tuliskan di postingan ini bahwa dinamika terus terjadi dalam kehidupan, terlebih di pekerjaan yang sekarang sedang aku jalani. Di tempatku sedang terjadi masa transisi karena atasan baruku baru saja on-boarding di lokasi, sebelumnya memang hanya ditempati oleh pemangku jabatan sementara.
Tentu saja karena aku sudah berada di lokasi ini duluan, aku yang melakukan sharing tentang apapun yang ada di lokasi ini kepada atasanku ini, baik soal pekerjaan, kebiasaan yang sudah ada, sampai tempat makan siang ada dimana. Untuk poin terakhir sih aku juga masih sering kebingungan haha. Bahkan sampai ada grup makan siang yang terbentuk untuk brainstorming ide mau makan siang hehe.
Atasan baruku ini sangat antusias mengenal lingkungan barunya, bahkan saking antusiasnya di hari pertama sampai mengajak ketemu lagi setelah office hour,
"Mas nanti malam sepulang saya dari monthly review, nanti ketemuan di kantor ya, ada yang mau saya bahas"
...
Setan di sampingku berdengus,
"Ya elah broo, bikin alesan aja supaya ga ke kantor, mending istirahat aja, goler-goleran netplixann, males banget tauu, udah jam segini juga"
Sejenak aku hampir setuju dengan sosok ini, tapi entahlah jawaban di group chat berbeda saat itu
"Okee pak, habis makan malam saya meluncur ke kantor", balasku 5 menit kemudian
Menjelang akhir tahun 2020, keadaan ideal yang kita bayangkan bahwa situasi harusnya semakin membaik rupanya belum tercapai.
Situasi yang hampir sama di tempat kerjaku sekarang. Performansi di akhir tahun menunjukkan tren yang menurun. Meskipun di beberapa indikator memang membaik, tapi ada juga indikator yang malah terjun jauh bila dibandingkan tahun lalu.
Sungguh butuh extra effort memang.
Namun, saat-saat seperti inilah aku bisa mengambil peran dan belajar menjadi terus optimis. Kalau kata Pak Handry Santiago, komponen yang dibutuhkan menjadi leader adalah punya self-energy dan energize others. Energi optimis yang terpancar dari diri tentu akan membuat perbedaan di lingkungan sekitar kita
Secangkir kopi posong untuk memberi energi di pagi hari (source:dokumen penulis)
Itulah yang terus aku lakukan kepada tim yang menjadi tanggung jawabku. Aku terus berusaha meyakinkan dan menyediakan support bagi tim semaksimal mungkin. Terus menampilkan kata-kata dan sikap yang memberikan energi positif kepada semua orang dalam tim. Aku optimis bahwa di tengah-tengah dinamika dan kondisi tak pasti seperti inilah kita bisa tumbuh dan step up ke next level.
(baca juga Pelan tapi Pasti)
Mungkin orang sekitarku juga ada yang mikir kayak gini
"Heran dah kenapa positif banget sih ni orang ?"
"Ati-ati toxic lu ntar, dunia ga seindah itu bro" dan mungkin pikiran lain yang beberapa kali tak sengaja aku dengar sayup-sayup, ya benar aku bisa membaca pikiran wkwk, maksudnya dari bahasa non-verbalnya gitu, aku diam-diam mengamati orang lho guys hehe.
Well, tidak semua orang punya mindset yang sama. Itu pasti.
Di saat bersamaan, optimisme dan pikiran positif ini bisa saja membuat orang lain muak dan menuduhku terjebak di dalam buaian rasa naif. Optimisme yang berlebihan juga bisa palsu dan toxic jika hanya berwujud dalam kata berhias pekik semangat semata.
Meskipun kuning,ngambang tapi tetap positif, pokoknya gitu(source unsplash.com)
Namun optimisme yang aku maksudkan adalah di saat pemimpin bisa berpikir
"Baiklah ini semua memang terjadi dan nyata, aku yakin hari depan terus menjadi lebih baik, jika belum pun aku akan terus memperbaiki diri dan terus mengubah tantangan ini menjadi kesempatan"
ya, jenis optimisme yang seperti itu
Jenis optimisme yang bertanggung jawab untuk terus mampu melihat peluang dari setiap tantangan yang muncul. Bukan optimisme yang hanya menunggu dan cenderung malah jadi denial dengan keadaan sebenarnya.
Tahun ini sulit buat semua orang, tapi yang pasti tahun ini adalah waktu paling tepat untuk kita mensyukuri apa yang kita punya. Aku memilih untuk terus optimis, memilih terus positif. Sebentar lagi tahun baru kok, meskipun kelihatannya mustahil dijalani, tapi ternyata sampai juga di titik ini kan? Kalau belum sesuai dan belum maksimal, sama-sama belajar yuk untuk terus lebih baik.
Semangat :)
Positive thinking will let you do everything better than negative thinking will.
-Zig Ziglar
Berada di unit terdepan dan terkecil perusahaan ini membuatku semakin bangga bahwa aku ditempatkan bukan untuk main-main, tapi dititipi harapan menjadi tumpuan masa depan.
Hampir 2 minggu ini agenda virtual webinar dan virtual training mengisi penuh hari-hariku, Kerasa banget sih mata jadi perih karena mantengin layar seharian hehe. Bulan oktober ini intensitas hujan makin tinggi, hawa sejuk yang terasa kadang menjadi penggoda bagi mata ini untuk tertutup pelan-pelan, virtual training kadang jadi menjemukan wkwk, maaf ya para trainer, aku tetap berusaha fokus kok.
Tak terasa sudah 2 tahun aku berada di dalam sebuah institusi yang disebut-sebut menjadi tumpuan transformasi digital bangsa ini. Setidaknya itulah yang dikatakan bung Erick Thohir ketika memasukkan mas Fajrin sebagai salah satu direktur. Sebuah harapan yang tentu punya dasar, perusahaan ini selalu punya cara untuk menghadapi perubahan yang ada.
Teman-teman pembaca blog pasti seringnya mampir ke sini karena tulisan yang pernah kubuat di sini (Seleksi GPTP 7 Telkom). Sampai saat ini postingan itu masih menjadi top post untuk menarik traffic di blog ini hehe, kalau postingan yang lain cuma curhatan dari aku aja wkwk. Lalu udah ngapain aja sih setelah 2 tahun di Telkom ini, mari sejenak memanggil memori itu.
Pada mulanya adalah mendoan
Masa dinasku terhitung dari 1 Oktober 2018, pertama kali menjejak Purwokerto membuatku mengerti bahwa ini adalah tempat yang cukup jauh kalau misal mau mudik, 10 jam perjalanan harus ditempuh ketika nanti mau balik ke rumah. Makanan yang khas disini adalah mendoan, bentuknya yang tipis dan digoreng namun tetap dipertahankan sedikit lembek agar makin maknyus, kalau aku bilang sih dibiarkan belum matang banget, sama seperti aku yang datang ke sini masih dalam kondisi setengah matang, karena yang aku punya hanya teori dan konsep yang diajarkan di Telkom Corpu.
Di sini aku mulai beradaptasi pelan-pelan. Berstatus sebagai karyawan dalam masa percobaan waktu itu membuatku mau tidak mau harus menangkap berbagai informasi sebanyak dan secepat mungkin. Untung saja warga Witel Purwokerto ini menerima dengan baik apa yang menjadi kepolosanku waktu itu. Ditempatkan di unit support membuatku belajar banyak hal tentang teknis dan IT tools. Seiring berjalannya waktu, status karyawan percobaan berubah menjadi karyawan tetap yang artinya kini kontribusi dan effortnya sudah harus full. Disinilah aku dikondisikan dan dibentuk untuk menjadi orang yang harus cepat belajar.
Berdansa di lantai dinamika
Menariknya dalam setahun di Purwokerto aku sudah dua kali mengalami pindah unit, yang aku cukup sayangkan waktu itu, aku masih belum terlalu dalam untuk explore di unit sebelumnya. Hal ini sempat membuatku merasa bingung dan kelelahan ketika harus belajar lagi dari awal tentang unit yang baru. Puncaknya tentu saja saat harus pindah ke lokasi Datel Banjarnegara. Tentu saja saat itu aku cukup terkejut, apalagi harus segera pindah tempat tinggal dan harus segera penyesuaian kembali ke tempat baru. Penugasan di sebuah datel menjadi hal yang cukup kompleks, karena disini hampir semua bagian aku menjadi terlibat di dalamnya. Namun, ini mengingatku ke tempaan yang sempat diajarkan saat bintal dulu. Dinamika itu pasti, mereka yang tidak cepat adaptasi pasti hanya bisa menjadi penonton, aku memilih untuk berdansa di lantai dinamika itu.
Menjiwai inovasi
Selain di operasional, aku berkesempatan juga untuk belajar menumbuhkan jiwa inovasi di program digital AMOEBA. Bersama 2 teman yang lain, proposal ide kami kirimkan. Ternyata kami waktu itu bisa melaju terus sampai ke tingkat nasional. Setidaknya bisa sampai di lihat jajaran top leader lah ya waktu itu. Belajar membagi waktu antara proses berinovasi dan operasional membuat aku sadar bahwa disiplin adalah kunci. Sebagus apapun rencana kita tapi kalau eksekusinya tidak disiplin pasti akan menghasilkan result yang kurang bagus. Inovasi kami memang melaju sampai nasional tapi untuk implementasi masih belum sesuai harapan kami. Tidak apa-apa, jiwa inovasi harus terus berkobar. Individu-individu dengan jiwa inovasi menjadi sumber daya berharga bagi perusahaan yang juga menjalani transformasi ini.
Nyawa dan harapan
Di unit sekarang aku bertugas masih banyak tantangan yang di hadapi. Berada di unit terdepan dan terkecil perusahaan ini membuatku semakin bangga bahwa aku ditempatkan bukan untuk main-main, tapi dititipi harapan menjadi tumpuan masa depan. Untuk itu aku memilih memberi nyawa pada harapan itu, membuatnya hidup untuk bergerak dan benar-benar terwujud di masa depan. Tentu saja tidak mudah tapi bukan berarti tidak mungkin.
Training virtualku masih berlanjut dua hari lagi, hal ini menjadi pelengkap dari latihan sehari-hari yang ku alami. Dua tahun ini sudah banyak yang aku pelajari, pelan tapi pasti, aku berusaha terus menjadi lebih baik dari kemarin. Tahun-tahun mendatang tentu masih akan diisi banyak pelajaran yang menjelang.
Selamat berakhir pekan, kalau musim hujan gini lebih enak di kosan aja kali yaa.
Di tepinya sungai serayu,
frondyff
frondyff
Baru saja kendaraan yang aku naiki ini berjalan, hari ini aku melakukan tur lapangan untuk melakukan proses uji terima proyek pembangunan jaringan telekomunikasi. Bergegas dengan beberapa orang, aku mulai naik ke lokasi. Hamparan kebun salak di kanan-kiri rasanya sudah menjadi hal yang biasa. Rasanya saat kecil dulu aku cuma tahu buahnya saja, tapi sekarang aku berada di salah satu kota penghasil Salak. Tidak ku sangka.
Lokasi ini mengantarkanku ke tempat yang agak tinggi dan medan yang cukup berat. Karena penasaran kenapa belum sampai-sampai aku bertanya kepada SPV proyek pembangunan ini. "Ini baru seperempat mas, medannya agak terjal memang", katanya sembari bergetar karena memang jalan itu cukup berbatu. "Oke mas, lanjut aja, ga mungkin putar balik dong hehe", candaku yang mungkin tidak kena di mereka.
Mendengar kata "masih seperempat" tadi malah membawaku terbawa ke perenunganku sendiri. Perjalanan seperempat abad ini membawaku kembali ke perenungan, kata terjal dan bergelombang tadi sedikit banyak menjadi deskripsi visual yang pas bagi apa yang sudah aku lewati tahun-tahun ini. Kalau istilah populer orang-orang quarter life crisis hehe. Tak terelakkan sepertinya ini kuhadapi. Ada margin cukup lebar dari apa yang kutuliskan di life goals dan apa yang kualami sekarang.
Entahlah, mungkin saja karena aku menuliskan life goal itu di sebuah pelatihan leadership yang diberikan oleh beasiswa yang aku terima saat kuliah dulu. Idealisme yang terkikis ? bisa jadi, tapi aku melihat ini hanya rutenya saja yang berbeda, setelah kulihat-lihat lagi goalnya tidak beda jauh kok. Tidak perlu putar balik. Selalu banyak kejutan yang muncul untuk mewarnai hidup rupanya. Siapa yang sangka aku menuliskan ini di sebuah kota yang sebelumnya hanya aku kenal lewat minuman khasnya dengan menjalani pekerjaan yang lebih banyak berhadapan dengan banyak orang. Tipe pekerjaan yang bukan menjadi prioritasku sebenarnya.Namun aku bersyukur karena lewat cara ini aku semakin diperlengkapi.
Garis waktu selalu berjalan pada tempoNya, meskipun aku sudah membuat rencana harian, jadwal mingguan dan agenda bulanan, ada saja sesuatu yang tak terduga. Hal tersebut yang semakin membuatku sadar bahwa apapun rencana yang kita punya, kesempatan terbaik mewujudkannya adalah tergantung dari bagaimana cara kita melakukannya hari ini dengan maksimal dan berserah pada Sang Pemilik Waktu.
Hari ini aku sampai di seperempat abad, memang benar ternyata ya, semakin bertambah umur, ulang tahun bukan jadi momen riuh gempita, ulang tahun menjadi momen refleksi dan bersyukur. Sebab aku sadar hidup akan bermakna bila berarti bagi orang lain. Itulah kenapa sekarang tiap hari aku mengambil waktu jeda dan menuliskan hal apa saja yang aku syukuri seperti yang ada di tulisan berikut "Kekuatan jeda dan terimakasih". Kekuatan manusia yang ku miliki takkan pernah cukup bertahan untuk melewati semua ini. Itulah hal yang semakin aku pegang sebagai prinsip. Kekuatanku berasal dari atas, dari Sang Pemberi Hidup. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.
Arunika di seperempat abad (source:dokumentasi penulis)
"Mas sudah sampai lokasinya", salah seorang tim proyek menyadarkanku, "Tadi tiangnya sudah dihitung ya?" tanyaku, memang jumlah tiang di lapangan harus dipastikan apakah sesuai dengan yang di dokumen atau tidak. "Sudah mas, tadi kan dihitung sama-sama". Oke. aku kelewatan tidak menghitung rupanya. "Nanti waktu balik kita hitung ulang lagi ya, kayaknya ada yang terlewat hitungan tiangnya tadi" jawabku meyakinkan hehe. Duh gara-gara kata seperempat tadi sih wkwk, rupanya benar setelah kami hitung balik ada tiang yang beneran terlewat oleh hitungan mereka. Melamun yang membawa berkah memang hehe.
Semoga aku tetap bisa rutin bercerita lewat blog ini ya teman-teman, aku senang karena tulisan yang aku buat untuk reminder bagi diriku sendiri ini ternyata juga menjadi reminder buat orang lain. Terimakasih untuk setiap orang yang menjadi saksi momen jatuh dan bangkitku di seperempat abad ini.
Seperempat abad melihat,
frondyff

"Yang kamu lakukan ke saya itu....." (source:nextflix.com)
Kalau ingat dialog film di atas pasti tahu kalimat "Rangga, yang kamu lakukan ke saya itu...jahat ". Benar, waktu itu berpisahnya tidak baik-baik, si Rangga tiba-tiba hilang, kayak hantu, kalau yang sering kita dengar dia menjadi pelaku ghosting hoho.
Seperti yang kami lakukan beberapa waktu lalu, disitu tertulis kami karena memang pelakunya sekelompok beranggotakan 3 orang hehe. Jadi, hubungan ini terjalin antara sebuah kelompok inovasi dengan sebuah mananjemen inovasi di sebuah perusahaan haha. Kami berhasil masuk ke sebuah fase pengembangan inovasi dan berjalan dengan lancar, namun karena ada satu lain hal di beberapa minggu berikutnya komunikasi intens itu menurun, sehingga kami menghilang tanpa kabar, kami melakukan ghosting wkwk. Lalu kami dinyatakan fail secara rule of games hehe.
Keputusan yang sesuai memang, baru-baru ini saja akhirnya kami baru menjalin komunikasi kembali untuk memberikan laporan aplikasi kami. Itupun setelah adanya ultimatum lumayan mengancam dari CEO-nya hehe, kami memutuskan untuk mencoba "putus baik-baik" dengan pihak pengelola inovasi, sedang kami usahakan, doakan lancar ya.
Ternyata ghosting bisa muncul dimana saja, kisah barusan di atas masih tergolong mudah, karena satu pihak punya ukuran jelas mengambil tindakan ketika kami tidak mencapai KPI. lalu bagaimana dengan sebuah relasi antar manusia yang rumit tanpa KPI ini. Yang biasanya sangat intens komunikasi, update cek posisi, greeting tiap pagi, tiba-tiba *pufftt, hilang.
ghosting, cuma hantu yang hilang tanpa wujud, huu (source:usplash.com)
Menurut mbak Jennice di artikel psychologytoday ini, ghosting terjadi ketika sebuah komunikasi yang biasanya intens terjadi, terus ada satu pihak yang tiba-tiba hilang tanpa penjelasan. Hal ini bukan hal yang baru, karena katanya hampir 50% laki-laki dan wanita pernah mengalami ghosting, ups.
Disebutkan juga bahwa hal ini menimbulkan luka emosional pada korban ghosting, para korban seperti ditinggalkan tanpa petunjuk, sehingga membuat bertanya-tanya tanpa pernah mengerti maksud dan motif dari pelaku, huh, dasar.
Motif pelaku ghosting bisa macam-macam, bisa jadi karena tidak tahu cara mengungkapkan emosi dan cara yang tepat untuk mengakhiri hubungan sehingga menurutnya menghilang lebih gampang, tentu saja ini bukan pengalaman pribadi loh ya, maaf.
Apapun motifnya, hal ini disebut para terapis sebagai cara paling tidak ideal untuk mengakhiri sebuah hubungan, karena bisa membuat para korban merasa dirinya tidak layak dicintai, punya rasa tidak percaya lagi ke seseorang, bahkan mengalami trauma memulai hubungan baru karena beberapa kali di-ghosting, duh jahat kamu mas.
memulai hari baru (source:dokumentasi penulis)
Untuk para korban ghosting, jangan pernah merasa diri kita tidak berharga meskipun pernah ditinggalkan orang lain, nilai diri kita tidak ditentukan oleh ketidakmampuan orang lain menyatakan emosi mereka, dalam hal ini ghosting. Seseorang itu bisa jadi memang bukan untukmu, seseorang yang lebih baik akan segera datang, pasti (baca juga "jangan berhenti mencari")
Buat para pelaku, karma is real broww haha. cobalah untuk melatih dirimu untuk mengatakan sesuatu yang bisa jadi kurang nyaman untukmu di awal tapi baik bagi kedua pihak agar tidak menimbulkan unfinished business. Kalau bisa berpisah baik-baik, usahakanlah itu. Sebisa mungkin hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang, apapun relasinya, entah itu pertemanan, romansa, ataupun profesional. Memang tidak mudah tapi bukan berarti mustahil.
“Someone disappearing on you doesn’t reflect your worth: It reflects their fear of being ‘seen'”- Baggage Reclaim, Natalie Lue
“Someone disappearing on you doesn’t reflect your worth: It reflects their fear of being ‘seen'”- Baggage Reclaim, Natalie Lue
Mantan pelaku ghosting yang sudah tobat.
frondyff
"Aduh... karena kebijakan baru ini orderanku jadi pending semua nih", terdengar sayup-sayup perkataan dari salah satu rekan dari tim penjualan di kantorku.
Sudah hampir sebulan kebijakan itu berjalan dan memang cukup berpengaruh di pencapaian penjualan kami akhir-akhir ini.
Aku jadi ikutan mengeluh karena denger tadi, kelepasan lebih tepatnya, "Andai si pembuat keputusan itu melihat langsung keadaan lapangan, pasti dia akan lebih baik dalam memutuskan aturan baru ini" gumamku sambil melihat dashboard yang dari tadi juga error. Ternyata mengeluh menular juga ya.
Bagaimana rasanya saat menjalani sesuatu pertama kali ? Benar, selalu antusias meskipun agak ragu dan ada rasa takut. Namun setelah melakukannya untuk berulang kali rasanya menjadi biasa saja. Lalu bagaimana caranya keluar dari kebosanan itu ?
Pengalaman baru setiap hari
Tidak menunda pekerjaan
Di tulisanku sebelumnya disini (Adaptasi tanpa henti), aku pernah menuliskan bahwa proses unlearn bisa memberi cara pandang baru pada hal yang ada agar gelas kita terus bisa diisi. Begitu juga dengan mindset beginner's mind yang dipaparkan oleh Shunryu Suzuki di Zen Mind, Beginner's Mind. Konsep pikiran pemula ini adalah saat kita melepas semua ekpektasi dan informasi yang sudah kita tahu sebelumnya. Yaitu melihat sesuatu seperti saat belajar pertama kali, just like beginner. Kalau aku bisa membayangkan saat aku pertama kali belajar hal baru, misalnya saat belajar pertama kali naik sepeda. Awalnya bingung untuk mulai menyeimbangkan dan mengayuh pedalnya, masih belum tahu caranya dengan baik, takut jatuh tapi di sisi lain ada rasa penasaran untuk terus mencoba dengan segala cara. Perasaan seperti itulah yang disebut beginner's mind.
Memiliki mindset seperti pemula membuat kita mendapatkan banyak hal menurut Leo Babauta di sini, dengan mindset ini kita bisa memandang aktivitas yang kita lakukan sehari-hari dengan cara yang baru dan antusias. Bahkan kalau kita coba mulai dengan hal sederhana dengan mulai menyadari aktivitas saat kita makan. Kita bisa mulai dengan meletakkan gadget kita, mulai menyadari makanan di depan kita, meskipun sudah sering pesan makanan itu (ayam geprek for life) hehe, perhatikan mungkin ada sesuatu yang biasanya terlewatkan oleh kita dan coba bersyukur untuk setiap suapan yang masuk ke mulut kita. Yaa itulah latihan sederhana untuk memulai beginner's mind.
Pengalaman baru setiap hari
Kita terlalu banyak ekspektasi dan asumsi soal sesuatu ketika kita tidak mengosongkan gelas, jika punya beginner's mind, kita akan selalu menyambut semua aktivitas dengan semangat saat pertama kali melakukan sesuatu. Ketika kita punya cara pandang baru dan meletakkan semua ekpektasi tadi kita cenderung tidak mudah kecewa atau bosan karena kita mengganggap ini sesuatu yang baru, kita penasaran apa yang terjadi berikutnya untuk dijalani.
Hubungan yang dihargai
Saat ngobrol dengan orang yang sudah sering ditemui terkadang kita lalui dengan biasa saja. Terkadang sambil pikiran kita sedang melanglang buana kesana kemari. Sekarang coba kita sama-sama belajar untuk mendengarkan dengan seksama, lawan bicara ini mungkin saja orang yang ngeselin atau banyak omong kosong hehe tapi percayalah mungkin dia punya niat baik, dia sedang mencoba membagikan apa yang dia rasakan, mencoba bahagia. Lawan bicara kita juga sedang berjuang menjalani hidupnya. Beginner's mind membuat kita bisa mengamati sesuatu yang terlewat, sama seperti kita berinteraksi dengan orang lain, kita semakin mengasah dan menajamkan diri untuk terus berproses di kehidupan.
Mindset ini juga berperan penting jika diterapkan di dunia kerja. Mungkin teman-teman mendapatkan tugas yang hampir sama setiap hari sehingga terkadang menunda karena ada distraksi kegiatan lain yang kurang penting. Anggap saja bahwa pekerjaan ini akan punya 'rasa' lain meskipun berulang. Hal yang lain, misalnya teman-teman punya pekerjaan yang sulit dan complex. Kita cenderung untuk menunda karena berpikir akan sangat sulit menyelesaikannya. Dengan beginner's mind membuat kita bisa untuk terus penasaran dalam proses apa yang dijalani dibandingkan hanya membayangkan kesulitan tadi. Beranilah melangkah.
Meredam khawatir
Seringkali kita khawatir pada pertemuan ataupun kegiatan yang kita jalani setiap hari, takut terbunuh ekspektasi dan tenggelam dalam ketidaknyamanan. Dengan beginner's mind, daripada sibuk khawatir kita bisa mengubah cara pandang untuk terus mencari tahu dan penasaran. Karena segala sesuatu yang digariskan terjadi akan selalu memberikan value tambahan bagi kita. Tetap menjadi sadar dan selalu cari hal yang bisa disyukuri untuk menjadi orang yang lebih baik.
Seringkali kita khawatir pada pertemuan ataupun kegiatan yang kita jalani setiap hari, takut terbunuh ekspektasi dan tenggelam dalam ketidaknyamanan. Dengan beginner's mind, daripada sibuk khawatir kita bisa mengubah cara pandang untuk terus mencari tahu dan penasaran. Karena segala sesuatu yang digariskan terjadi akan selalu memberikan value tambahan bagi kita. Tetap menjadi sadar dan selalu cari hal yang bisa disyukuri untuk menjadi orang yang lebih baik.
Mindset seperti ini memang tidak terjadi otomatis, butuh latihan juga. Untuk itulah aku juga terus belajar untuk menjadi sadar dalam setiap momen-momen yang aku jalani. Teman-teman, mari terus berusaha mengubah mindset dari 'know it all' menjadi 'learn it all'. Setiap hari adalah kesempatan belajar untuk kita menjadi lebih baik dari hari sebelumnya.
Akan aku tutup dengan quote dari Shunryu Suzuki di gambar ini
Akan aku tutup dengan quote dari Shunryu Suzuki di gambar ini
Selamat menjadi pemula yang terus belajar, teman-teman!
frondyff
Masa-masa new normal sudah berjalan lebih dari dua minggu, ada pula yang memilki sebutan lain untuk kondis ini misalnya, new reality, mungkin di berbagai daerah ada 'new' yang lain, tapi kata kunci menghadapi semua 'new' ini ada di satu kata, yaitu adaptasi.
Terlepas ini sebuah kata yang sudah berulang-ulang kita dengar, adaptasi memang tidak semudah mengucapkannya. Seperti yang aku alami juga ketika masuk dunia kerja. Hal yang paling mencolok tentu saja lingkungan berbeda dan kini sudah jauh dari rumah, memang sih saat kuliah aku juga tinggal jauh dari rumah, tapi saat itu masih bisa pulang seminggu sekali, kini saat harus merantau lintas provinsi, waktu pulang jadi semakin jarang apalagi setelah masa pembatasan bepergian ini masih diterapkan. Adaptasi tentu menjadi hal yang harus dilakukan saat itu. Ternyata belum selesai di sana, di tempat kerja juga terjadi dinamika tinggi, disini setidaknya aku sudah mengalami pergantian unit 3 kali, lagi-lagi hal ini membuatku harus menyesuaikan pada flow yang ada.
Memang sudah menjadi sifat dasar manusia untuk berusaha lebih baik dari orang lain, kompetisi sering kita hadirkan dalam pikiran kita tiba-tiba, jika untuk tujuan yang baik dan semakin terpacu semangat, membandingkan itu hal yang baik, tapi jika malah membuatmu kehilangan diri sendiri? Untuk apa ?
Comparison is a thief of joy
-Theodore Roosevelt
-Theodore Roosevelt
Bagaimana dengan quote di atas, apakah teman-teman setuju ? quote luar biasa itu dituliskan oleh Teddy Roosevelt, presiden Amerika ke 26 yang familiar kita lihat peran bijaknya di film Night at the Museum. Meskipun pada zaman Teddy hidup belum ada social media, ternyata proses membandingkan kehidupan dengan orang lain sudah ada sejak dulu.
Di pagi hari, setelah mengambil waktu teduh dengan Sang Pencipta, aku selalu melakukan dialog dengan diri sendiri, bertanya apa yang akan aku lakukan hari ini dan apa yang ingin aku capai, tidak lama, hanya beberapa kalimat tapi itu sudah cukup memberikan ku semangat. Dialog-dialog inilah yang menjadi sugesti dan afirmasi positif untukku menjalani aktivitas.
Bagiku, proses mengenal diri dengan self talk ini menjadi bagian penting karena setelah Sang Pencipta, diri kita sendiri yang paling mengenal kita, yang paling tahu apa yang kita rasakan sekarang. Itulah mengapa hal ini terus aku lakukan setiap harinya agar proses pengenalan diri terus berlanjut. Proses pengenalan diri bukan seperti menyelesaikan sebuah cerpen yang singkat, melainkan proses terus menerus membaca dan menulis di saat yang sama otobiografi kita sendiri.













